37°C
27 February 2024
Kehamilan

Pandangan Medis soal Surogasi dan Regulasinya di Indonesia

  • Februari 12, 2024
  • 2 min read
Pandangan Medis soal Surogasi dan Regulasinya di Indonesia

Hibunda – Surogasi, atau menitipkan kehamilan ke rahim orang lain, merupakan isu yang kompleks dengan berbagai sudut pandang, termasuk medis, hukum, etika, dan agama. Di Indonesia, surogasi masih menjadi isu kontroversial dan belum diatur secara jelas dalam undang-undang.

Pandangan Medis

Secara medis, surogasi dapat menjadi pilihan bagi pasangan yang mengalami kesulitan hamil, seperti infertilitas, kelainan rahim, atau kondisi medis lainnya yang tidak memungkinkan kehamilan. Surogasi juga dapat membantu perempuan yang ingin menjadi ibu tetapi tidak dapat hamil sendiri, seperti perempuan dengan sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH).

Namun, surogasi juga memiliki risiko medis, baik bagi ibu pengganti maupun bayi. Risiko bagi ibu pengganti termasuk komplikasi kehamilan dan persalinan, infeksi, dan efek samping obat-obatan yang digunakan dalam proses surogasi. Risiko bagi bayi termasuk cacat lahir, prematuritas, dan komplikasi neonatal.

Regulasi di Indonesia

Di Indonesia, surogasi tidak diatur secara jelas dalam undang-undang. Hal ini menyebabkan surogasi berada di area abu-abu hukum, dan menimbulkan berbagai pertanyaan tentang hak dan kewajiban para pihak yang terlibat, seperti calon orang tua, ibu pengganti, dan bayi yang dilahirkan melalui surogasi.

Beberapa peraturan yang terkait dengan surogasi di Indonesia, antara lain:

  • UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
  • Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
  • Keputusan Menteri Kesehatan No. 269/Menkes/SK/III/2008 tentang Pedoman Praktik Kedokteran untuk Program Teknologi Reproduksi Berbantuan

Namun, peraturan-peraturan tersebut tidak secara spesifik membahas tentang surogasi. Surogasi memiliki pro dan kontra yang perlu dipertimbangkan.

Pro:

  • Membantu pasangan yang mengalami kesulitan hamil untuk memiliki anak.
  • Memberikan kesempatan bagi perempuan yang ingin menjadi ibu tetapi tidak dapat hamil sendiri.
  • Membantu ibu pengganti yang ingin membantu orang lain memiliki anak.

Kontra:

  • Risiko medis bagi ibu pengganti dan bayi.
  • Potensi eksploitasi terhadap ibu pengganti.
  • Permasalahan hak dan kewajiban para pihak yang terlibat.
  • Ketidakpastian hukum di Indonesia.

Surogasi merupakan isu kompleks dengan berbagai sudut pandang. Di Indonesia, surogasi masih menjadi isu kontroversial dan belum diatur secara jelas dalam undang-undang. Diperlukan diskusi dan kajian lebih lanjut untuk menentukan regulasi yang tepat tentang surogasi di Indonesia, dengan mempertimbangkan aspek medis, hukum, etika, dan agama.

About Author

Ayu Dwi Amira