37°C
28 February 2024
Kesehatan

Geger Varian Baru Covid Lebih Mematikan

  • November 20, 2023
  • 3 min read
Geger Varian Baru Covid Lebih Mematikan

Hibunda – Ada kembali subvarian Omicron namanya HV.1 dan JN.1. Subvarian HV.1 disampaikan sudah jadi strain menguasai di Amerika Serikat (AS). Sementara JN.1, turunan subvarian Omicron Pirola, belakangan ini diketemukan di 12 negara, termasuk Inggris, AS, Islandia, Portugal, dan Spanyol.

Selainnya demam, tanda-tanda dari 2 subvarian Omicron baru ini berlainan dari sebelumnya. Omicron HV.1 dan JN.1 dapat munculkan tanda-tanda pada lidah di beberapa orang atau disebutkan COVID Tongue. Beberapa pasien terkena akui penampilan lidah mereka kelihatan tidak normal.

Geger Varian Baru Covid Lebih Mematikan

Adapun tanda-tanda pada lidah berkaitan COVID-19 (COVID Tongue) diikuti bengkak atau infeksi saat terkena COVID-19. Banyak pasien mungkin saja mengetahui jika lidah mereka terlihat lebih putih dan tidak rata dari umumnya.

Selainnya tanda-tanda itu, banyak pasien alami tanda-tanda lain seperti kemerahan terlalu berlebih, kesan kebakar, mati rasa, dengan tingkat tertentu di lidah.

“Banyak yang kehilangan hasrat dan alami mati rasa dengan tingkat tertentu,” sebut dr Johannes Uys dari Broadgate General Practice, d ikutip dari Kilat, Kamis (16/11/2023).

Kadangkala, tonjolan atau sariawan bisa juga muncul di pasien yang terkena. Munculnya sariawan ini umumnya perlu diatasi beberapa obat supaya makin membaik.

Di lain sisi, bertambahnya keluh kesah pada lidah penderita COVID diutarakan study Zoe Covid. Mereka mengutarakan akhir-akhir ini ada lumayan banyak pasien COVID-19 yang mengatakan lidah mereka terlihat tidak normal.

Menurut dr Uys, ada banyak faktor yang bisa membuat beberapa penderita COVID-19 alami tanda-tanda itu. Satu diantaranya karena tanggapan imun pasien pada virus SARS-CoV-2.

Faktor yang lain, mungkin terpengaruhi oleh besarnya jumlah reseptor ACE pada mulut penderita. Tanda-tanda pada lidah berkaitan COVID ada karena jumlah virus SARS-CoV-2 yang melekat di reseptor-reseptor itu lumayan tinggi.

Beberapa orang yang alami tanda-tanda ini benar-benar disarankan untuk konsultasi sama dokter. Ini karena pasien membutuhkan obat tambahan untuk menyembuhkan atau memudahkan keluh kesah lebam sampai radang pada lidah.

dr Uys menyebutkan tanda-tanda di lidah semakin banyak diketemukan pada kasus COVID-19 yang karena variasi Pirola. Karena, variasi itu mempunyai kecondongan semakin tinggi untuk memacu infeksi di kulit dan mulut.

Periset China Ungkapkan Mistis di Kembali Long COVID

Team riset yang dipegang oleh beberapa dokter dari 3 rumah sakit terpenting di China temukan panduan baru masalah ‘long COVID’. Penemuan itu akan menolong analisis awalnya pribadi yang beresiko tinggi dan memberi panduan tingkat molekuler dari penyakit ini.

Anggota team yang terbagi dalam Rumah Sakit Pertemanan China-Jepang, Rumah Sakit Peking Union Medical College, dan Rumah Sakit Jinyintan Wuhan mengeluarkan penemuan itu di jurnal klinis internasional The Lancet.

Riset ini mengikutsertakan 181 pasien COVID-19 yang sudah dipulangkan dari Rumah Sakit Jinyintan Wuhan dari bulan Januari sampai Mei 2020. Mereka memperbandingkannya dengan barisan kontrol yang terbagi dalam 181 orang, yang mempunyai umur dan tipe k

Untuk ketahuinya, team kumpulkan contoh plasma darah dari pasien COVID-19 dan barisan kontrol pada tiga titik waktu. Waktu periode itu seperti 6 bulan, setahun, dan 3 tahun sesudah infeksi dan lakukan analitis khusus.

Mereka menjelaskan jika sekitaran 10 % populasi global yang terkena virus Corona baru dapat meningkatkan long COVID. Keadaan itu dapat memengaruhi banyak mekanisme organ badan.

D ikutip dari China Daily, mereka menulis ada tersisa virus di jaringan sesudah infeksi. Itu adalah reaktivitas silang di antara anti-bodi detil pada virus Corona dan protein inang, yang mengakibatkan reaksi autoimun dan kemungkinan yang lain.

Tetapi, tesis itu tetap membutuhkan klarifikasi selanjutnya.

Sekarang ini, analisis dan penyembuhan Long COVID tetap jadi rintangan. Khususnya karena minimnya biomarker untuk analisis dan interferensi awal.

Karena itu, penting untuk temukan skema rekondisi biologis pasien COVID-19 dalam periode waktu lebih lama. Disamping itu, perlu mengeksploitasi protein penting yang bisa memengaruhi hasil periode panjang untuk pelajari proses Long COVID.

About Author

Ayu Dwi Amira