37°C
27 February 2024
Parenting

3 Kalimat yang Buat Kecerdasan Emosional Anak Terhalang

  • Oktober 18, 2023
  • 3 min read
3 Kalimat yang Buat Kecerdasan Emosional Anak Terhalang

Hibunda – Meskipun prestasi akademik sangat penting, Bunda juga perlu membangun kecerdasan emosional pada anak. Untuk itu, ada beberapa kalimat yang tidak boleh dikatakan agar mereka memiliki kecerdasan ini.

Untuk meningkatkan kecerdasan emosional pada anak, orang tua perlu melakukan banyak komunikasi dengan mereka. Hal ini diungkapkan langsung oleh seorang neuropsikolog dan penulis buku Energy Rising: The Neuroscience of Leading with Emotional Power, dr. Julia DiGangi, PhD.

3 Kalimat yang Buat Kecerdasan Emosional Anak Terhalang

Julia menyebut, kecerdasan emosional perlu gaya komunikasi yang baik yang dapat mendorong koneksi dan kemandirian. Keduanya sangat penting untuk mendapatkan hubungan yang sehat dan penuh empati.

“Saya mengajari orang-orang gaya komunikasi yang mendorong koneksi dan kemandirian, yang keduanya penting jika ingin memiliki hubungan yang kuat, sehat, dan penuh empati,” ungkapnya dikutip laman CNBC Make It.

Kalimat yang perlu dihindari

Menurut Julia, ada beberapa kalimat yang perlu Bunda hindari jika ingin anak memiliki kecerdasan emosional. Berikut ini Bubun bantu rangkumkan deretannya:

  1. “Kenapa kamu tidak bisa lebih termotivasi lagi?”

Otak diatur untuk unggul kapanpun dan di manapun. Jadi, ketika anak-anak mengalami kesulitan, itu bukan karena anak tidak ingin melakukannya dengan baik, namun karena mereka tidak mampu.

Dengan kata lain, masalahnya bukan dari motivasi mereka. Hal ini terjadi karena adanya keterputusan antara ekspektasi Bunda sebagai orang tua dan kemampuan yang anak miliki.

Alih-alih menyalahkan anak atas motivasi yang mereka miliki, baiknya Bunda merespons secara emosional dengan rasa ingin tahu di mana motivasi dan kemampuan dapat bersinggungan. Misalnya saja ketika Si Kecil terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain daripada membaca.

Hindari bertanya “Kenapa kalau tidak bisa lebih termotivasi untuk membaca buku?”. Sebaliknya, cobalah pertanyaan seperti “Bunda lihat kamu sangat suka video game. Bunda ingin dengan apa yang sangat kamu suka dari mereka. Apa kamu mau membaca buku bersama?”.

  1. “Kenapa kamu tidak mau mendengarkan Bunda?”

Julia mengaku pernah bekerja dengan orang tua yang putrinya mengalami gangguan sensorik. Orang tua ini pun merasa frustrasi karena di ruang praktik, sang anak menolak untuk keluar dari mobil.

Meski begitu, mereka terus melakukan percakapan. Mereka mengetahui bahwa anak sebenarnya terganggu dengan musik yang diputar di ruang praktik dokter. Sang anak pun diberikan penyumbat telinga.

Pada akhirnya, masalah sebenarnya terjadi karena orang tua tidak mendengarkan apa yang anak butuhkan. Otak anak terikat dengan otonomi dan kebutuhan untuk menjelajahi dunia berdasarkan identitas mereka sendiri, bukan berdasarkan apa yang orang tua minta.

Klik baca halaman berikutnya untuk melihat kalimat lain yang perlu Bunda hindari agar anak memiliki kecerdasan emosional, yuk.

Jika Bunda dan Ayah terjebak dalam masalah ini, alih-alih bertanya mengapa mereka tidak mendengarkan, pertimbangkan untuk bertanya “Apakah Bunda sudah mendengarkan kamu?”.

Orang tua yang cerdas secara emosional tidak berusaha untuk mendapatkan kepatuhan dari anak-anak mereka. Namun, orang tua berusaha untuk mendapatkan koneksi. Anak perlu tahu bahwa Bunda bersedia mendengarkan mereka.

  1. “Kamu sangat tidak sopan!”

Julia kerap melihat orang tua mengambil kesimpulan yang luas dan sangat buruk tentang perilaku anak berdasarkan rasa tidak aman mereka.

“Sepasang suami istri mengatakan kepada saya ‘anak remaja kami tidak menghormati kami’. Karena mereka tidak mendengarkan ketika diminta menyelesaikan pekerjaan sains mereka. Namun begitu, orang tuanya menyampaikan kekhawatiran mereka dalam percakapan yang aman dan tidak berisiko,” kata Julia.

“Anak remaja mereka dengan tegas menjawab, ‘Saya sangat menghormati kalian! Sains itu sulit bagi saya’,” sambungnya.

Ketika ini terjadi, yang harus Bunda lakukan adalah mengajukan pertanyaaan spesifik dan tidak menghakimi. Lalu, tegaskan kesediaan Bunda untuk mendengarkan mereka.

Bunda bisa katakan “Bunda lihat kamu mendapat nilai 64 untuk ujian sains. Apakah kamu mau membicarakannya? Bunda hanya ingin mendengar pengalamanmu”.

Ketika perasaan anak terguncang, Bunda pun akan merasakan hal yang sama. Jadi, ketika emosi yang besar muncul, wajar jika Bunda ingin mengendalikan perasaan mereka dengan menyuruhnya untuk diam, tenang, atau sebagainya.

About Author

Ayu Dwi Amira